LKS vs "PUNGLI" berujung "BULI" menuju "BUI"
(Dr. Ahd Gozali)
Mau dibawa ke mana pendidikan kita?
Pendidikan Gratis bukan berarti tidak mengeluarkan uang.
Budayakan baca sampai habis agar tak gagal paham.
Jadi BERITA UTAMA di salah satu Portal Berita Online. Di salah satu SMP Negeri, seorang siswi dikabarkan dibully oleh oknum guru, karena siswi tersebut belum membayar buku LKS yang "wajib" dimiliki. Si guru kabarnya akan "diproses" karena bully dan pungli ðŸ˜.
Apa pentingnya LKS?
Bukankah pemerintah sudah sediakan buku melalui dana BOS? Bukankah di Indonesia wajib belajar 12 Tahun, dan karenanya sekolah sepenuhnya gratis?
Baik. Kondisi ini sebetulnya masuk ke dalam kategori "Dilema Etika". LKS sebetulnya digunakan untuk membantu guru dalam mengajarkan materi dan mengevaluasi pembelajaran anak. Sebab, belajar tidak cukup dengan mengandalkan "air liur" guru. Tentu dibutuhkan media lain, salah satunya adalah buku yang bisa dimiliki anak, dengan harga yang cukup murah, sudah bisa dibawa pulang. Pemerintah memang sudah menyediakan buku paket yang dibelanjakan dari dana BOS (dulu maksimal 20%). Tapi apakah buku paket ini memadai?
Pergantian kurikulum adalah tantangan besar bagi sekolah. Penyediaan sarana yang besar (termasuk buku) membutuhkan modal, apalagi sekolah-sekolah kecil yang dihuni oleh banyak guru honorer yang gajinya dibayarkan dari dana BOS. Setiap tahun memang dianggarkan untuk buku, tapi tetaplah tidak cukup karena anggaran terbatas. Jumlah buku dan jumlah anak.
Pembelajaran tidak akan maksimal dengan hanya mengandalkan mulut guru dan media pembelajaran seadanya melalui satu Proyektor yang dipakai secara bergantian oleh seluruh guru. Kemudian tidak semua pembelajaran dapat dilaksanakan di luar ruangan (belajar langsung ke alam/praktik).
Karena kepala sekolah adalah "Pemimpin", wajar jika ada kebijakan pembelian buku LKS, dengan satu HARAPAN BESAR, anak-anak sukses dalam belajar. (ini dilema pertama)
Di sisi lain, menyuruh anak membeli LKS dipandang sebagai perbuatan pungli, yang mendobrak peraturan yang ada. (ini dilema kedua).
Apakah ini termasuk pungli saya juga tidak tahu.
Jadi apa yang harus kita lakukan?
Saya percaya, pendidikan itu tidaklah mudah, dan tidak murah. Mengorbankan uang 150.000 untuk sepuluh LKS, sepertinya memang berat bagi kalangan menengah ke bawah. Tapi ingat, pendidikan adalah investasi.
Untuk guru, murid jangan dipaksa, cukup kita motivasi anak tentang pentingnya belajar, dan pentingnya memiliki sarana yang memadai, sehingga dengan suka rela mereka bisa menyisihkan sedikit uang jajannya untuk buku yang Rp. 10.000/mapel.
Catat, jika tidak ingin rugi, jangan memberi buku kepada anak sebelum dibayar, agar tidak menjadi persoalan. Jika anak hanya mampu beli buku 1 saja, ya, mungkin sebatas itulah kemampuan atau kemauannya. Sisanya kita laksanakan tugas mengajar dengan ikhlas, tanggung jawab, dan sebaik-baiknya. Paham atau tidaknya anak itu urusan lain.